Anggota Polisi Cederai Institusi Polri

Anggota Polisi Cederai Institusi Polri

SUMENEP â€" Instiusi kepolisian kembali tercederai akibat perbuatan yang tidak mencerminkan perilaku “aparat kepolisian yang profesional”, yaitu perlakuan kasar, dan pemukulan terhadap salah satu warga Desa/Kecamatan Guluk-Guluk Hadiri (45) yang mengakibatkan korban pingsan. Kini, si korban dalam keadaan yang cukup parah, selain mengalami luka robek di kepala belakang dan kepal bagian atas, korban juga mengalami luka lecet di bawah mata, luka lebam di pelipisnya hingga luka lecet di bagian tangannya.

Hadiri (45) pun harus pasrah berbaring lemas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moh. Anwar, Rabu (23/10) setelah koma kurang lebih selama lima jam (versi keluarga korban, red.).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Madura, penyebab komanya pria berpastur tinggi itu, diduga karena terkena benda tumpul oknum polisi lalu lintas (Polantas) Polres Sumenep, yang sedang menggelar operasi penegakan hukum (Gakum) di Desa Ketawang Laok, Kecamatan Guluk-Guluk, tepatnya di pertigaan sebelah timur gudang tembakau milik PT Gudang Garam.

Pada saat kejadian berlangsung, di Tempat Kejadian Perkara (TKP), kurang lebih sembilan petugas kepolisian Satlantas Polres Sumenep sedang melakukan operasi. Operasi tersebut digelar untuk mengantisipasi maraknya percurian kendaraan bermotor (curanmor) yang dinilai telah meresahkan warga.

Hanya saja pada saat itu, dua personel yang sedang melakukan operasi tiba-tiba memberhentikan Hadiri yang datang dari arah selatan dengan mengendari motor merk Honda Supra. Versi warga, petugas kepolisian langsung memukul kepala korban yang pakai helm it hingga mengakibatkan korban jatuh dan tersungkur ke badan jalan yang penuh dengan aspal. Hadiri, pada saat itu, sekitar pukul 10.30 Wib Hadari bermaksud untuk pergi ke kantor pegadaian yang berada di dekat Pasar Ganding. Akibat aksi yang dinilai tidak berpri kemanusiaan itu, korban langsung tidak sadarkan diri di TKP. Akhirnya, korban langsung dilarikan ke Puskesmas Ganding. Hanya saja Puskesmas Ganding langsung merujuk korban ke RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep, karena kondisinya cukup parah.

Sementara, hasil pemeriksaan dari tim medis RSUD dr. Moh Anwar, korban mengalami banyak luka, selain luka robek di bagian bibir, bagian kepala belakang, kepala bagian atas, juga mengalami luka lecet di bawah mata serta luka lebam di pelipisnya dan lecet di bagian tangannya.

”Kejadian persisinya kami tidak tahu, saya baru dikasih kabar setelah kakak saya sampai di Puskesmas Ganding,” kata Rusnan (37), saudara korban saat mendampingi kakaknya di RSUD kemarin.

Hanya saja menurut Rusman, berdasarkan informasi itu, kakak sepupunya pingsan dipukuli oleh oknum polisi. ”Kami berani mengatakan jika itu dipukul polisi, karena ada teman saya yang sudah mengantongi foto petugas polisi. Kata teman saya itu, ada dua petugas yang telah melakukan pemukulan terhadap kakak saya. Semoga tidak apa-apa, sebab saat di Puskesmas, kondisi kakak saya tidak sadarkan diri, bahkan dari mulut, hidung dan telinganya mengeluarkan darah, ada kemungkinan mengalami gegar otak,” bebernya.

Aksi pemukulan itu dinilai merupakan perilaku yang tidak mencerminkan visi-misi Polri. Bahkan tindakan telah keluar dari lazimnya kodrat kemanusiaan. ”Kalau memang suami saya salah kan tidak harus digebukin bagaikan binatang seperti itu,” terang sang isteri tercinta, Hj. Ulfatul Jannah (38).

Ia mengaku memang buta hukum, tetapi Jannah, setiap perbutan yang dinilai melanggar peraturan pasti ada sanksi. ”Indonesia kan negara hukum,” terangnya

Oleh sebab itu, keluarga korban meminta Polres Sumenep sebagai penegak hukum, agar tidak tebang pilih dalam mengusut persoalan tersebut. ”Kami hanya rakyat kecil yang tidak paham soal hukum. Makanya, kami pasrahkan semuanya kepada pihak yang berwajib saja. Karena kami percaya penegak hukum akan bekerja profesioanl menangani setiap persoalan yang melanggar hukum,” tukasnya. JUNAEDI/SYM

 

Merasa Kewalahan, Pemkab Minta Bantuan Pemprov

Merasa Kewalahan, Pemkab Minta Bantuan Pemprov

SUMENEP- Belum turunnya hujan membuat kekeringan di Sumenep semakin meluas. Kekeringan membuat sejumlah desa mengalami krisis air bersih. Meski sebelum-sebelumnya tidak pernah terdampak kekeringan, kini sudah ada 24 desa yang ikut merasakannya. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mengaku harus minta bantuan Provinsi Jawa Timur untuk mengatasinya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep, Syaiful Arifin mengatakan akibat kemarau panjang kini zona kekeringan semakin meluas. Tercatat ada 24 desa yang sebelumnya tak pernah terkena dampak kekeringan, namun tahun ini juga ikut terdampak.

Syaiful menyebutkan, desa-desa yang sebelumnya tidak pernah terdampak kekeringan tapi tahun ini mengalaminya salah satunya di Desa Dasuk Laok, Batuputih Kenek, dan Batuputih Laok untuk di daratan. Sementara di kepulauan yaitu Desa Talaga dan Rosong. “Karena sumber mata air di desa-desa itu sudah kini sudah mengering,” tandasnya, Kamis (23/10).

Oleh sebab zona kekeringan yang semakin meluas, pihaknya mengaku Pemkab sampai minta bantuan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur untuk ikut membantu mengatasi kekeringan yang dialami oleh Kabupaten Sumenep. Menurutnya, bantuan dari provinsis itu sudah turun dan sudah didistribusikan.

Dikatakan, bantuan air bersih dari Pemprov sebanyak 618 rit. Jika ditambah dengan dari pemerinta setempat, jumlah air bersih yang sudah didistribusikan sekitar 780 rit. Jumlah tersebut, dibagi masing-masing ada yang 18 rit, 17 rit, dan 15 rit. “Itu cukup sampai akhir Oktober. Karena kita, setiap desa itu satu minggu tiga kali kita ngirim selama satu bulan setengah,” tambahnya.

Syaiful juga mengataka, Pemkab Sumenep tidak hanya mengajukan bantuan kepada Pemprov, tapi juga ke pemerintah pusat. Namun, sampai saat ini bantuan yang dari pusat masih belum turun. Ia menambahkan, selama kekeringan masih melanda sejumlah daerah di Sumenep, pihaknya akan terus berusaha mengatasinya.

Sejauh ini, imbuhnya, mulai bulan Juli lalu anggaran yang sudah dihabiskan kurang lebih Rp. 400 sampai Rp. 500 juta untuk mengatasi kekeringan yang menimpa sejumlah daerah di Sumenep. Termasuk dengan bantuan yang dari Pemprov.

Sementara saat disinggung mengenai suplay air bersih untuk daerah kepulauan yang juga mengalami krisis air bersih, Syaiful mengaku masih akan memulai distribusi air bersih ke kepualauan minggu depan. Bantuan air bersih akan dimulai dari Desa Rosong dan Talaga, Kecamatan Nonggunong “Sebelumnya tidak pernah,” tutupnya. FATHOL ALIF

Kapolres Bantah, RSUD dr Moh Anwar Tertutup

Kapolres Bantah, RSUD dr Moh Anwar Tertutup

SUMENEP- Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Sumenep, AKBP Marjoko membantah insiden pemukulan anggotanya terhadap warga, Hadiri (45) hingga menyebabkan korban pingsan. Sebab berdasarkan keterangan dari anggota, korban diduga jatuh dari kendaraan, bukan karena dipukul.

Alasan Marjoko itu bukan tak beralasan. Menurutnya, saat anggotanya melakukan operasi, yang bersangkutan mengendarai kendaraannya dengan sangat cepat. Saat berusaha untuk menghindari razia polisi, korban jatuh hingga menyebabkan tidak sadarkan diri. Namun, pihaknya tidak akan tutup mata atau telinga. Marjoko masih terus melakukan pemeriksaan, baik kepada anggota maupun kepada saksi. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan yang bersangkutan dipukul, maka palakunya akan diproses sesuai hukum. ”Nanti visum yang berbicara. Dokter sudah memeriksa dari hidung sampai mulut,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan introgasi kepada anggota yang bertugas. Dalam operasi itu dirinya menurunkan 18 anggota. Sementara, khusus untuk Desa Guluk-Guluk Polres menurunkan sembilan anggota. Namun pihaknya lagi-lagi masih meragukan kecelakaan tersebut disebakan oleh ulah oknum Satlantas yang bertugas di lapangan. Karena berdasarkan hasil visum dokter di rumah sakit, luka yang diderita korban adalah luka lecet yang diduga terjatuh dan wajahnya terkena aspal.

”Boleh saja keluarga korban, mengaku korban dipukul petugas hingga pingsan, tapi itu semuan butuh pembuktian. Sedangkan hasil visum dokter rumah sakit membuktikan bahwa luka yang diderita korban adalah luka lecet. Jadi, ada kemungkinan korban terjatuh karena taku pada petugas lantaraan tidak membawa surat-surat kendaraan,” tegasnya.

RSUD Terkesan Tertutup

Sementara itu pihak RSUD terkesan menutupi kasus tersebut. Terbukti, saat dimintai keterangan tentang hasil pemeriksan medis, staf di rumah sakit plat merah itu kompak bungkam. Mereka berdalih, yang berwenang untuk mengeluarkan visum itu adalah Polres. ”Kita terikat kode etik. Jadi tidak bisa memberikan keterangan. Yang berhak adalah polisi,” kata Saprul Fajri, kepala Instalasi Peduli Pelanggan (IPP) RSUD dr Moh. Anwar. JUNAEDI/SYM